Pekan Kelam Wakil Inggris di Eropa

Jakarta, jalalive – Dominasi klub-klub Premier League di pentas Eropa mendapat pukulan telak setelah serangkaian hasil buruk di babak 16 besar UEFA Champions League musim 2025/2026. Tiga raksasa Inggris tumbang di leg pertama dengan skor mencolok. Juara bertahan Liga Inggris, Manchester City, dipermalukan Real Madrid tiga gol tanpa balas di Santiago Bernabéu. Di Paris, Chelsea dihantam Paris Saint-Germain (PSG) dengan skor 2-5 setelah kebobolan tiga gol di 20 menit akhir pertandingan. Sementara itu kejutan besar terjadi di Istanbul ketika Liverpool takluk 0-1 dari tuan rumah Galatasaray, memanfaatkan penampilan buruk The Reds pada malam yang hingar-bingar. Hasil-hasil ini bukan hanya kekalahan tipis, melainkan kekalahan telak dan menyakitkan bagi para wakil Inggris.
Tak hanya tiga klub tersebut, hasil minor juga dialami tim Inggris lainnya. Tottenham Hotspur dilaporkan dihajar Atlético Madrid 2-5 di Spanyol pada laga leg pertama mereka. Dua wakil Inggris lain, Arsenal dan Newcastle United, hanya mampu bermain imbang di laga tandang mereka. Artinya, dari enam wakil Premier League yang tampil di babak 16 besar Liga Champions pekan itu, tak satu pun meraih kemenangan, empat tim menderita kekalahan dan dua lainnya seri. Tiga dari empat kekalahan tersebut bahkan berakhir dengan selisih tiga gol yang mencerminkan dominasi lawan. Ini adalah pekan yang kelam bagi Liga Inggris di kompetisi Eropa, kontras dengan reputasi Premier League sebagai liga terbaik dunia.
Dominasi Premier League Mulai Dipertanyakan
Rentetan hasil negatif tersebut sontak memicu pertanyaan: apakah tim-tim Premier League masih layak disebut yang paling hebat di dunia? Selama ini, Liga Inggris kerap digadang-gadang sebagai liga terkuat dengan finansial terbesar dan kedalaman skuad luar biasa. Secara ekonomi, Premier League memang kaya raya, liga ini menghasilkan sekitar £6,5 miliar pendapatan per tahun, hampir dua kali lipat La Liga Spanyol. Enam dari sepuluh klub terkaya dunia pun berasal dari Inggris. Berkat kekuatan dana itu, klub-klub EPL mampu mengimpor talenta terbaik dunia dan di atas kertas seharusnya rutin berjaya di fase-fase akhir Liga Champions.
Namun realitas di lapangan musim ini berkata lain. Analis mencatat bahwa kualitas tim-tim Premier League 2025/2026 cenderung “middling” atau tengah-tengah, banyak dihuni pemain bintang mahal, tetapi tidak ada tim Inggris yang tampil sebagai kesebelasan luar biasa nan padu musim ini. Tidak terlihat adanya tim generasi emas yang mendominasi Eropa, tak seperti era kejayaan klub-klub Inggris beberapa tahun lalu. Justru kelemahan mendasar tampak di beberapa wakil: misalnya Chelsea yang rentan melakukan blunder di lini belakang, atau Manchester City yang tumpul ketika penyerang andalannya dimatikan lawan. Kegagalan City, Chelsea, dan Liverpool mencetak satu gol pun di laga-laga tandang tersebut memperlihatkan bahwa dominasi tak bisa dibeli hanya dengan skuat mahal. Pengelolaan klub yang kurang matang juga disorot; sejumlah pengamat menilai tim-tim Inggris dibangun dengan “jor-joran tak terarah” dan kerap gonta-ganti pelatih atau pemain tanpa fondasi taktik jelas. Akibatnya, ketika menghadapi tim elit Eropa lain yang lebih solid, wakil Premier League tampak kewalahan.
Di sisi lain, kredit patut diberikan kepada lawan-lawannya. Real Madrid sekali lagi menunjukkan mental juara Eropa saat membungkam City. PSG selaku juara bertahan Liga Champions tampil klinis memanfaatkan celah pertahanan Chelsea. Bahkan Galatasaray yang notabene underdog mampu bermain disiplin dan memanfaatkan dukungan penuh suporter Istanbul untuk menekan Liverpool sejak awal hingga mencetak gol cepat. Fenomena ini menggarisbawahi bahwa kompetisi antarklub Eropa kian kompetitif; tim-tim dari liga lain tidak gentar menghadapi klub Inggris, bahkan justru semakin percaya diri. Label Premier League sebagai liga terhebat dunia pun mulai goyah melihat kenyataan bahwa wakil-wakilnya bisa dipermak sedemikian rupa di panggung Liga Champions musim ini.
Evaluasi dan Prospek Leg Kedua
Meski demikian, sejumlah pihak mengingatkan agar tidak terburu-buru menghapus peluang tim Inggris. Arne Slot, pelatih Liverpool, menegaskan bahwa kesimpulan jangan diambil hanya dari satu pekan pertandingan yang buruk. “Untuk langsung mengambil kesimpulan setelah satu matchday, menurut saya itu contoh ukuran yang terlalu kecil dan bukan hal paling bijak,” ujarnya, seraya meyakini situasi bisa berubah pekan depan. Slot juga menunjuk beberapa faktor teknis yang memengaruhi hasil pekan ini, antara lain padatnya kalender Premier League tanpa jeda musim dingin, serta fakta bahwa empat dari lima tim Inggris harus bermain tandang di leg pertama. Bermain di kandang lawan di Eropa jelas tidak mudah, apalagi melawan tim-tim kuat dengan dukungan fanatik di markas mereka.
Masih ada leg kedua yang akan berlangsung di kandang klub-klub Inggris pada pekan depan. Momentum bisa berbalik jika para wakil Premier League mampu memanfaatkan dukungan publik sendiri. Manchester City dan Chelsea, meski tertinggal agregat tiga gol, setidaknya akan bermain di rumah sendiri dan berpeluang mencetak gol lebih banyak, sebuah tugas berat tetapi bukan mustahil bila mereka tampil sempurna. Liverpool hanya tertinggal 0-1 dan akan menjamu Galatasaray di Anfield; secara historis Liverpool kerap membuat comeback magis di Eropa, sehingga peluang lolos masih terbuka lebar. Arsenal dan Newcastle pun akan berusaha memaksimalkan hasil imbang yang didapat agar bisa melangkah ke perempat final.
Pada akhirnya, penilaian apakah Premier League masih liga terhebat di dunia akan sangat ditentukan oleh kiprah klub-klub tersebut di leg kedua dan babak selanjutnya. Jika sebagian besar gagal membalikkan keadaan dan tersingkir lebih awal, itu menjadi sinyal bahwa dominasi Liga Inggris di Eropa tengah melemah. Sebaliknya, bila mereka bangkit dan meloloskan beberapa wakil ke perempat final atau semifinal, pekan kelam kemarin bisa jadi hanya batu sandungan sementara. Yang jelas, performa buruk di Liga Champions 2025/2026 ini menjadi peringatan bagi klub-klub Premier League bahwa predikat “liga terbaik dunia” tak bisa diraih hanya dengan nama besar dan kekayaan finansial, pembuktian nyata di lapanganlah yang paling utama.